ALL ABOUT PAST, PRESENT, AND FUTURE
21:50 02/07/2009
It’s been very long time since my last post here. Ada begitu banyak hal yang terjadi. Ada kekecewaan, sakit hati, perpisahan, dilema, harapan, dan banyak keputusan-keputusan baru yang dulu tak terbayangkan, kini tiba-tiba saja terpikirkan dan langsung kulaksanakan. Karena terlalu banyaknya masalah, aku sampai merasa sedikit tertekan, dan bahkan mencoba melarikan diri dengan keluyuran nggak jelas. Kesadaran bahwa tak ada seorang pun yang bisa bertahan hidup sendirian, sedangkan aku tak bisa mempercayai siapapun di dunia ini, bahkan sempat membuatku muak pada diriku sendiri, dan menyalahkan orang-orang disekitarku yang membuatku menjadi begini. Selama beberapa bulan terakhir ini, aku telah berubah menjadi orang yang menyebalkan, dan bahkan dalam beberapa kesempatan aku merasa telah tersesat jalan.
Tapi semua itu sudah bukan masalah lagi sekarang. Seperti biasanya, sekalipun aku kehilangan arah dan tertekan, tapi Allah selalu memberikan petunjuk-Nya melalui hal-hal kecil yang perlu kupahami perlahan-lahan, sehingga akhirnya aku bisa menemukan jalanku lagi. Aku memang masih seperti anak-anak yang terus menerus tersesat, tapi sekarang aku memahami bahwa, apapun yang terjadi, yang perlu kulakukan adalah back to the origin. Kembali kepada alasan eksistensiku di dunia ini. Dan kuharap, posting-ku yang super panjang kali ini kelak dapat mengingatkanku kembali kepada proses yang perlu kutempuh untuk memenuhi alasan itu.
Sebenarnya, minat dan bakatku sejak dulu bukanlah di bidang Ekonomi, melainkan Bahasa. Bahkan selama SMA, nilai-nilai mata pelajaran Ekonomi-ku cenderung dibawah rata-rata. Namun sebagai anak sulung dari empat bersaudara, aku tidak boleh memberatkan ego dan menurutkan keinginan saja. Maka aku memilih masuk jurusan Ekonomi, karena pertimbangan bahwa peluang pekerjaan dan gaji dari Ekonomi lebih bagus daripada jurusan Bahasa. Soal Bahasa bisa kupelajari sendiri, tapi ilmu diluar bahasa perlu kupelajari melalui pendidikan formal. Sedangkan masalah kemampuan di bidang Ekonomi pasti bisa dikejar selama ada motivasi dan disiplin. (Soal kenapa aku memilih program studi Ekonomi Pembangunan, itu adalah soal yang lain lagi).
Saat masuk kuliah, aku mendapatkan amanah dari orang tuaku, bahwa selama aku kuliah, aku nggak perlu mengkhawatirkan masalah biaya, tapi setelah lulus, aku harus sebisa mungkin meringankan beban orang tua, dan harus siap menanggung kehidupan adik-adikku kelak. Aku punya tiga adik. Adik pertamaku tahun ini masuk perguruan tinggi. Sedangkan adik keduaku, sekarang duduk di kelas 3 SMP SBI. Ke depannya, dia mungkin masuk ke SMA SBI juga. Adik ketigaku adalah satu-satunya anak laki-laki dari empat bersaudara, dan satu-satunya yang menderita disleksia. Karena di Temanggung, tidak ada sekolah khusus, maka dia masuk sekolah umum, dan sekarang duduk di kelas 6 SD.
Keluargaku memang bukan keluarga miskin, tapi ayahku bukanlah pegawai, dan penghasilannya tidak tetap. Sekalipun ayahku bilang aku tidak perlu mengkhawatirkan biaya, tapi aku tahu bahwa limit kalimat itu adalah tahun depan. Tahun ini adik pertamaku masuk kuliah saja, ayahku sudah pontang-panting mencari hutang buat membayar biaya masuk kuliahnya. Apalagi bila tahun depan adik keduaku masuk SMA (dengan asumsi SMA SBI), dan adik ketigaku masuk SMP. Tanpa orang tuaku mengatakan apapun, aku sudah paham sekali bahwa aku mutlak harus lulus di semester 8, dan seandainyapun tidak bisa, maka aku dengan terpaksa harus melepas kuliah dan bekerja.
Selain itu, latar belakang keluargaku sedikit rumit. Ayahku berasal dari keluarga petani berpendidikan rendah. Ayahku adalah satu-satunya dari keluarganya yang mengenyam perguruan tinggi. Kondisi keluarga ayah yang seperti itu, ditambah pekerjaan Ayahku yang tidak stabil dan kurang bergengsi di mata masyarakat modern, membuat keluargaku tidak memiliki posisi yang sebanding dengan keluarga besar Ibuku yang merupakan klan berpendidikan tinggi. Kakak-kakak ibuku memiliki intelegensia tinggi, dan telah meraih kedudukan di tingkat paling terhormat dalam golongan profesinya yang bergengsi di mata masyarakat, dengan penghasilan yang relatif tinggi dan stabil. Saudara-saudara sepupuku, dengan demikian juga tidak hanya memiliki intelegensia tinggi, tapi juga akses yang lebih baik ke fasilitas-fasilitas pendidikan, kesehatan, dan fasilitas hidup lainnya. Mungkin apa yang kurasakan ini cuma rasa iri yang tak berdasar, tapi aku sungguh merasakan perlakuan yang berbeda bagi keluargaku. Sejak lama, aku paham sepenuhnya bahwa apapun yang kulakukan, apapun pencapaianku, seberapa tinggipun IP-ku, selama aku belum mencapai tingkat dimana mereka berada, maka keluargaku tidak akan memperoleh pengakuan yang kuharapkan.
Bukan cuma pengakuan dari keluarga besar Ibuku yang sulit kuperoleh, tapi bahkan lingkunganku pun meremehkanku. Masa 6 tahun di madrasah kuhabiskan di dalam diskriminasi. Madrasah tempat sekolahku itu berafiliasi dengan salah satu ormas Islam. Padahal keluargaku bukan merupakan anggota ormas Islam manapun, termasuk ormas yang itu. Karena hal itu, guru-guru terus menerus memanipulasi nilai-nilaiku, hanya agar seorang putri tokoh ormas tersebut di desaku, selalu mendapat rangking satu. Aku sulit mendapatan kesempatan mewakili sekolah dalam kompetisi, karena walau aku mampu, tapi keluargaku bukan anggota ormas itu. Dan hal ini tak hanya dialami olehku, melainkan juga adik pertama dan kedua-ku. Manipulasi nilai paling parah terjadi dalam mata pelajaran Bahasa Inggris, dimana aku adalah siswa yang paling menguasai bahasa Inggris, nilai-nilai harianku antara 8 dan 9,5, bahkan nilai ujian akhirku 9,75 (hanya keliru penulisan satu huruf), tapi nilai Bahasa Inggrisku di rapor adalah 6. Ketika Ibuku komplain, jawabannya,”Yang dinilai kan bukan cuma ujian, tapi juga perilaku.”. Tentu saja Ibuku marah. Karena keluargaku, terutama aku, pantang mencontek ataupun mencurangi tugas/ujian, penurut pada guru, tidak pernah bikin onar, dan rajin belajar; sedangkan jelas-jelas orang yang mendapat rangking diatasku adalah tukang contek. Sekalipun itu pengalaman hidupku yang paling buruk, tapi pada akhirnya aku bisa membuktikan kemampuanku yang sesungguhnya dengan NEM EBTANAS peringkat satu se-kecamatan (prestasi yang tak pernah dicapai madrasah-ku sejak pertama kali berdiri), masuk salah satu SMP dan SMA negeri favorit di Temanggung, dan diterima di Universitas bahkan sebelum aku lulus, sedangkan putri tokoh ormas itu nggak lebih dari pecundang (kelas 3 SMA dia harus mengulang karena tidak lulus, padahal dia cuma sekolah di madrasah aliyah pinggiran).
Pengalaman 6 tahun itu, ditambah latar belakang keluargaku, telah menjadi vonis mutlak bahwa aku tidak boleh mempermalukan nama keluarga dengan bad attitude, drop out, lama lulus, apalagi jadi pengangguran. Lebih dari itu, aku lelah didiskriminasi hanya karena aku berbeda. Aku benci melihat lebih banyak orang lagi harus merasakan hal yang sama. Kami memiliki kompetensi yang sama atau bahkan lebih baik, tapi kenapa kami harus direndahkan hanya karena pandangan atau pilihan hidup kami berbeda dari pandangan mayoritas ? Pandangan mayoritas belum tentu baik, kan ? Dimana posisi keadilan seharusnya ditegakkan ? Memangnya kenapa dengan berbeda pandangan ? Bukankah Allah menciptakan manusia berbeda-beda agar mereka saling mengenal, dan bukan agar mereka saling menyingkirkan ? Aku ingin menciptakan Dunia yang lebih baik bagi semua orang, bukan cuma untuk golongan tertentu saja. Islam adalah rahmatan lil ’alamin, dan demikianlah seharusnya.
Semua itu adalah masa lalu yang membentuk diriku saat ini. Alasan kenapa dengan suka rela aku mengikat diri pada etika. Alasan kenapa sekarang aku berada disini. Alasan kenapa aku membenci dan menyukai. Juga latar belakang bagi semua rencana masa depanku.
Dengan berjalannya waktu, aku menemukan apa yang bisa membangun Dunia yang lebih baik bagi semua orang seperti yang kuimpikan: Ekonomi Islam. Ekonomi Islam adalah kekasihku saat ini, satu dari tiga hal paling penting dalam hidupku: keluargaku yang telah menjadi rumah tempatku kembali, Ekonomi Islam sebagai kekasih yang sangat kucintai, dan kebudayaan Jepang yang merupakan perwujudan mimpi-mimpiku akan integritas dan identitas. Jadi, bagiku masalahnya bukan lagi cuma soal finansial atau nama baik keluarga, karena aku sudah menemukan hal-hal yang kuinginkan dan kucintai. Perjuanganku ke depan, selain aku tetap harus bertanggung jawab pada keluarga, aku juga ingin memperjuangkan cita-cita dan cintaku dengan segenap kemampuanku. Skill terbaikku adalah belajar. Jadi rencana yang kususun di tahun-tahun awalku di Universitas adalah lulus tepat waktu, mendalami Ekonomi Syariah, dan membaktikan diri dengan menjadi akademisi.
Saat semester 5, rencanaku semakin jelas. Semester 6 aku berjuang menjadi Mapres, semester 7 fokus ke PKL, KKN, skripsi, dan mencari kesempatan magang. Semester 8 lulus. Untuk itulah, aku memaksa mengambil 23 SKS semester 6 ini, dengan asumsi, semakin sedikit kuliah yang tersisa untuk semester 8, maka aku bisa lebih fokus ke skripsi dan magang. Sehingga akhirnya hanya tinggal satu mata kuliah (dua sks) yang belum kuambil dari kurikulumku. Kembali lagi ke soal masalah finansial dalam keluargaku, aku harus lulus semester 8, jadi aku akan melakukan apapun agar bisa lulus semester 8.
Untuk itu, akhir semester 6 ini, aku sudah melepas organisasi kemahasiswaan, dan berniat pindah kos ke Jatingaleh, karena posisinya lebih strategis dan akses transportasi dari sana ke tempat magang potensial dan organisasi kemasyarakatan lebih bagus dibanding jika aku tetap tinggal di Sekaran yang transportasinya susah. Semua itu, tentu saja, dengan kenyataan bahwa urusanku dengan kampus cuma PKL, KKN, skripsi, Ujian Komprehensif, dan satu mata kuliah (dua SKS). Ada banyak waktu luang bisa kupakai untuk aktivitas yang lebih produktif dan lebih mampu melatihku untuk terjun ke masyarakat, yaitu magang dan mengikuti organisasi kemasyarakatan.
Saat ini aku juga sedang mengikuti Short Course Perbankan Syariah. Tiga peserta peringkat teratas Short Course itu akan mendapatkan kesempatan magang di Bank Muamalat Semarang. Dan aku benar-benar berharap aku bisa mendapatkan kesempatan magang itu, untuk selanjutnya setelah lulus kuliah bekerja disana, mengumpulkan uang untuk S2 Ekonomi Syariah UI, lalu seusai S2 aku bisa menjadi akademisi seperti yang kuinginkan. Seandainya tidak bisa menjadi akademisi pun, aku tetap bisa mendedikasikan diri untuk Ekonomi Syariah yang kucintai. Aku juga bisa turut menyokong finansial keluarga. Selain itu, bagiku, bahwa aku bisa mendapatkan pengalaman dan bekerja bagi hal yang kucintai, adalah sesuatu yang sangat berharga dan tak tergantikan oleh apapun.
Namun semua rencana yang sudah kususun berdasarkan pemikiran matang selama tiga tahun itu, hancur hanya karena dosen pembimbing dua-ku punya reputasi susah ditemui. Seorang senior angkatan 2003 yang cukup dekat denganku, merupakan mahasiswa bimbingan beliau. Hampir setiap kali aku ke ruang dosen, aku akan menemukannya menunggu dosen tersebut. Masalahnya, dosen tersebut, jika di-sms tidak dibalas, jika ditelpon malah direject, bahkan sekalinya diangkat, beliau bilang akan ke kampus jam sekian, tapi ditunggu mahasiswa seharian tidak datang. Padahal beliau sendiri jarang ke kampus, tidak jelas ke kampus hari apa, dan menolak didatangi ke rumah. Seandainya hanya seniorku satu itu saja yang bermasalah, tentunya aku nggak begitu tertekan. Tapi baru-baru ini aku dapat kabar bahwa dari 20 mahasiswa angkatan 2005 yang dibimbing beliau, hanya satu orang yang lulus. Ini membuktikan satu hal buatku: bahwa yang bermasalah bukan mahasiswanya, melainkan dosennya. Bagaimana aku bisa lulus cepat, kalau dosbing dua-ku seperti itu? Bagaimana aku bisa ”nyambi” magang, kalau setiap hari aku mesti menunggu di ruang dosen ? Aku tidak tahu seberapa jauh kebenaran reputasi itu, karena hingga sekarang pun aku belum bertemu dengan beliau, tapi aku bisa melihat hari-hari membosankan yang tidak produktif di depanku. Semua rencanaku hancur begitu saja.
Kukira bimbingan skripsi bisa lewat email. Kukira janjian skripsi bisa dibuat via HP. Kukira untuk bimbingan tidak perlu stand by di ruang dosen lima hari seminggu. Siapa sangka semua itu cuma mimpi di siang bolong saja ?
Kemudian aku coba cari peluang jika aku tetap tinggal di Sekaran dan fokus ke pengerjaan skripsi, tanpa berpikir untuk magang. Bisa saja, sebenarnya. Aku tetap kos di Sekaran, mencari kesempatan menjadi asisten lab, fokus ke skripsi, lalu setelah lulus berusaha mencari kesempatan menjadi dosen kontrak, berusaha mendapatkan beasiswa S2, lalu menjadi dosen tetap. Tapi sekalipun itu adalah jalan damai yang paling mudah diambil dalam posisiku, tetap saja menurutku itu bukan solusi. Karena, aku adalah katak dalam tempurung. Seumur hidupku, aku belum pernah benar-benar terjun ke masyarakat maupun berbaur, sekalipun aku ikut organisasi kemahasiswaan. Hal ini bisa dilihat dari fakta bahwa sekalipun karya tulisku di LKTM maupun LKIP jawa tengah sukses, tapi tidak satu pun PKM-ku lolos. LKTM/LKIP Jateng lebih condong ke konsep dan pengembangan teori, sedangkan PKM lebih condong ke aplikasi. Pendek kata, walau kemampuan teori dan penguasaan bidang studi-ku tinggi, tapi pengetahuan teknis dan aplikasi-ku dibawah rata-rata. Aku nggak mungkin bisa membumikan Ekonomi Syariah, baik dari jalur akademisi maupun praktisi, dalam kondisi seperti ini.
Masalah dosbing dua yang kuributkan itu mungkin terkesan agak berlebihan, mengingat aku bahkan belum bimbingan sama sekali dengan beliau. Tetapi masalah remeh itu, bagiku seakan sudah merusak semua rencana masa depanku, menyisakan dua jalan: (1) bersikeras memegang rencana awal dengan risiko kelak ribut soal bimbingan skripsi dan tidak bisa lulus tepat waktu, atau (2) merubah rencana demi menyelesaikan skripsi dengan risiko selamanya menjadi katak dalam tempurung.
Kedua pilihan itu sangat tidak mudah bagiku, karena, seperti tadi sudah kusebutkan, aku punya masalah finansial, nama baik, dan tanggungan cita-cita. Aku harus lulus tahun depan, aku harus sukses, dan aku juga harus menambah pengalaman. Aku nggak bisa mengorbankan satu diantaranya. Seandainya aku harus mengorbankan pun, yang mana yang harus kukorbankan ? cita-citaku ? Dulu aku telah mengorbankan minatku dan segala bakat alamiah dalam bidang bahasa yang telah dianugerahkan padaku, apa sekarang aku harus mengorbankan hal yang kucintai juga ? Setelah semua yang dikorbankan oleh orang tuaku, bagaimana mungkin pula aku mengorbankan keluarga ?
Bagi setiap rencana yang kususun, aku juga membuat rencana cadangannya. Begitu pula dengan rencana pertamaku (sebut saja: Rencana Magang) dan rencana keduaku (sebut saja: Rencana Skripsi). Rencana cadangan itu adalah bila setelah lulus, aku jadi pengangguran lebih dari satu tahun dan tidak bisa melanjutkan S2, maka aku akan membuka taman bacaan dan bimbingan belajar di daerahku dengan tabungan yang kumiliki. Tapi Rencana Pesimis ini jelas bukan pilihan ketiga. Ini cuma rencana cadangan bila semua upayaku gagal total, sehingga prioritas yang tersisa tinggal bagaimana memenuhi kebutuhan dasar hidup saja. Pengetahuan teknis yang rendah, kelemahanku dalam bersosialisasi, dan mobilitasku yang rendah (ingat, aku phobia sepeda motor, jadi kemana-mana harus jalan kaki atau naik angkutan umum) merupakan alasan utama minimnya pilihan yang kumiliki.
Dilema ini adalah masalah terakhir dalam semester ini yang membuatku tertekan.
Setelah memikirkan semuanya dengan matang, saat ini aku telah memutuskan untuk tetap berpegang pada Rencana Magang dengan sedikit modifikasi. Mengingat masalah finansial, maka skripsi akan menjadi prioritas utamaku mulai saat ini, jadi aku tetap akan kos di Sekaran. Akan tetapi aku juga tetap akan menjalankan rencana magang dan mencari kerja sambilan, dengan segala resiko yang mungkin harus kutanggung.
Tidak peduli apapun yang akan terjadi di masa depan, ini adalah jalan yang telah kurencanakan. Aku sudah membangun jembatan menuju ke suatu tempat yang tidak dikenal di seberang sana, dan aku tidak akan mundur lagi mencari jembatan yang lain. Sekalipun jembatan yang telah kubangun ini rapuh, atau bahkan kelak hancur di tengah jalan, aku tidak akan menyesal, karena ini adalah jembatan yang kubuat dan kujalani sendiri. Sekalipun tempat yang tidak kukenal itu kelak ternyata menolak kehadiranku atau bahkan membuangku, aku hanya akan terus maju dengan tetap berpegang pada keyakinanku. Karena sebagai manusia, aku hanya perlu melakukan hal yang ingin kulakukan dengan sepenuh jiwa dan ragaku, sedangkan soal masa depan, Allah lah yang lebih tahu apa yang terbaik bagiku. Bila masa depanku bagus seperti yang kuharapkan, ya Alhamdulillah, tapi kalaupun masa depanku ternyata tidak semulus yang kuinginkan, maka niscaya Allah memiliki rencana-Nya sendiri untukku, yang jelas lebih baik dari yang bisa kuharapkan. Karena Allah tidak memberikan apa yang kuinginkan, melainkan apa yang kubutuhkan. Aku hanya bisa berdo’a, semoga kali ini pun, Allah meridhai pilihanku. Label: i am, need of achievement, permanent decision, tak ada penyesalan Read more..!
COURAGE
23:20 02/05/2009
“Courage is almost a contradiction in terms. It means a strong desire to live, taking the form of readiness to die.” (GK.Chesterton)
Sejak selasa sore kemarin, hingga sekarang (sabtu malam), aku terus menerus membisikkan kalimat itu, menuliskannya di binder saat kuliah, bahkan membuat wallpaper bertuliskan kalimat itu dan memasangnya di desktop laptopku. Kalimat itu adalah ekspresi rasa sakitku, kekecewaan yang meluap di hatiku.
Dengan kalimat itu, aku berusaha mensugesti diriku, bahwa saat aku maju ke pemilihan mapres fakultas, aku memang berusaha melakukan yang terbaik, tapi aku juga harus siap menerima kekalahan walau telah memberikan yang terbaik. Karena walau faktanya, sejumlah dosen dan bahkan sesama peserta pun mengakui bahwa karya tulisku bagus, dan bahasa inggrisku yang terbaik diantara yang lain, tapi hanya karena sertifikatku kurang berkualitas, dan aku belum pernah melakukan penelitian maupun pengabdian masyarakat, maka aku jadi peringkat empat di mapres kemarin. How poor I am…
Pada hari selasa kelabu itu, Allah sudah melancarkan jalanku dalam presentasi, baik presentasi bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Sungguh surprise bagiku, bahwa walau setelah semua yang kulakukan, aku hanya mendapat total nilai 65. Entah bagaimana, aku merasa nilai itu sangat tidak sesuai dengan usaha dan performaku. Seusai acara itu, aku masih sanggup berfoto dengan tersenyum, tapi begitu sampai di kamar, tangisku langsung meledak. I don’t deserve to get this ! I’ve done my best, why can’t i get the best place ?
Sejumlah senior memintaku maju lagi tahun depan. Tapi aku cuma bilang,”yeah, let’s see later.”. Jujur, hingga hari rabu pagi, aku masih merasa nggak terima dengan hasil itu. Hanya karena etika berkompetisi-lah, makanya aku masih bisa tersenyum seusai acara. Perasaanku begitu sakit. Ini berhubungan dengan luka lama-ku yang berdarah lagi gara-gara mengetahui hasil kompetisi itu. Manusia bisa berusaha, merubah masa depan, tapi sejarah adalah sesuatu yang walau bagaimanapun juga nggak bisa diapa-apakan. Ketika aku menoleh kebelakang, sejarah yang menyakitiku itu terus saja berada disana, seperti nightmare yang terus menerus menghantuiku. Kegagalanku di mapres ini membawa nightmare itu maju ke hadapanku lagi, setelah sekian lama tersembunyi jauh di belakangku. Ibuku sampai-sampai berkata dengan keras,”Anna harus menerima hasil itu. Itu adalah ujian dari Allah buat Anna.”.
Sebenarnya, semuanya sesuai dengan prediksiku. Adalah benar bahwa ke-nonaktif-an-ku di kegiatan ekstra kampus menjadi masalah besar bagiku. Adalah benar bahwa aku hanya akan mendapat peringkat tiga atau empat. Semua fakta ini membuktikan kemampuanku sebagai pembaca situasi yang bagus. Di kesempatan berikutnya, aku ingin memprediksikan kemenanganku. Untuk itu, banyak hal harus ku-improve. Tapi, bagaimana aku mau meng-improve kemampuanku, kalau hingga detik inipun, setiap kali membicarakan ”mapres”, aku selalu merasa sakit ?
Bukan cuma ”hasil”-nya yang membuatku sakit hati, tapi juga kenyataan bahwa nggak satu-pun ”petinggi” KSEI tahun ini yang nongol di event itu untuk mendukungku. SMS dukungan pun nggak ada. Yang datang cuma fungsionaris yang kebetulan seprogram studi denganku, jadi itu kuanggap solidaritas sesama Ekonomi Pembangunan. Orang yang mensupport-ku di tempat hingga acara selesai, bukanlah pengurus KSEI. Orang yang memberiku sms support berkali-kali via facebook, plus sms motivasi di hari H, dan bahkan setelah mengetahui hasil yang mengerikan itu, beliau masih sms bilang, ”i’m proud of you, tahun depan InsyaAllah mapres milik abida”, dia adalah orang yang nyaris tidak lagi masuk dalam struktur. Their words means so much for me, dibandingkan ucapan orang-orang yang bicara berkoar-koar tentang ukhuwah, tapi sebenernya cuma peduli pada orang-orang yang segrup dengan mereka. Keliatan bener bo’ongnya.
Padahal support yang paling kuharapkan justru dari orang-orang ”dalam” KSEI. Karena apa yang kuangkat disana adalah mengenai zakat produktif. Karena tujuanku ”berani mati” maju mapres adalah untuk mensyiarkan ekonomi syariah, membuktikan bahwa syariah itu ilmiah, bahwa syariah itu hebat. Karena selama ini pun, nama ”Abida” identik dengan nama ”KSEI”. Karena aku sudah hampir tiga tahun di KSEI. Karena selama ini KSEI selalu menjadi prioritas nomor satuku setelah kuliah. Karena selama ini aku selalu menjaga komitmenku disana. Karena dengan naif-nya, aku berpikir bahwa maju-nya aku disana adalah maju-nya KSEI juga. Karena dengan polosnya, aku mengira karya tulisku tentang zakat itu bisa menjadi syiar ekonomi syariah di FE. Aku juga nggak berharap mereka menungguiku dari pagi hingga sore, karena aku paham, mereka toh sibuk dengan kegiatan lain. Tapi apa susahnya sih, nongol barang satu-dua menit, atau meluangkan beberapa detik buat ngirim sms ?
Mereka memang tidak berbuat apa-apa. Bahkan hingga detik ini pun, mungkin mereka tidak sadar bahwa sikap mereka yang ”tidak berbuat apa-apa” itu justru menyakitiku. Kalau untuk mensukseskan program sendiri, mereka rela berkorban berpuluh-puluh sms, tapi kenapa untuk sesuatu yang (menurutku) merupakan satu langkah maju bagi kajian dan syiar ekonomi syariah, mereka acuh sekali ? Jika suatu saat salah satu dari mereka membaca posting ini, lalu meminta maaf dan menyampaikan alasan ”lupa”, ”tidak tahu”, atau sejenisnya, maka dengan tegas kukatakan disini, bahwa mereka sudah sangat terlambat. Permintaan maaf mereka tidak bisa mengubah ”sejarah” hari selasa itu.
Sikap mereka yang mereka lakukan secara spontan itu telah menunjukkan ”wajah” mereka yang sesungguhnya. Bahwa sebenarnya apa yang telah kulakukan selama ini sama sekali tidak dianggap penting. Bahwa mereka hanya menghargaiku selama aku bermanfaat bagi mereka. Bahwa ekonomi syariah sama sekali tidak penting bagi mereka, kecuali sekedar pelengkap.
Setelah semua sikap acuh mereka, berani-beraninya mereka memintaku ”memahami perbedaan”, ”mengeratkan tali ukhuwah”, ” membumikan ekonomi syariah”. Omong kosong apa sih, yang mereka bicarakan ? Persis seperti kata Ibuku, ”ukhuwah” buat mereka cuma semboyan. Kalau kataku, sih, ”ukhuwah” mereka itu berarti in group feeling, ”membumikan ekonomi syariah” berarti in group building, dan mereka sama sekali nggak merasa ada yang keliru dengan semua itu. Padahal kita hidup di dunia yang beraneka warna. Apakah berbuat baik pada muslim yang segolongan lalu bermasa bodoh dengan muslim dari golongan lain itu bisa dibenarkan, padahal ”katanya” semua muslim bersaudara ? Apakah menganggap ”orang diluar grup” sebagai ancaman itu bisa dibenarkan ? Apakah kebal kritik itu bisa dibenarkan ? Jika aku berusaha mengkritik mereka, maka jawabannya adalah komentar yang seakan menyatakan bahwa hanya aku-lah yang tidak bisa menghargai perbedaan, yang menolak memahami, dan yang terus menerus meributkan perbedaan.
Yah, anggapan yang terakhir itu memang bisa saja benar, karena aku sama sekali tidak bisa memahami semboyan-semboyan konyol mereka, dan aku juga merasa sudah tidak dibutuhkan lagi di KSEI, persis sebagaimana aku merasa kecintaanku pada ekonomi syariah sudah nggak ada hubungannya lagi dengan KSEI. Label: destiny, keluar atau tidak ? Read more..!
MICHISHIRUBE
2:49 23/04/2009
“Me no mae ni hirogaru samazama na yama Kata no chikara nuite ano hikari made sou sukoshi ka na Tada imi mo naku tsuzuku michi Kiri no mukou ni wa michi migi hidari mite jimichi ni Mayotteta michi ni koko de owakare Ato wa sono saki dake susumu dake Sono speed wa osokare hayakare Senaka niwa dekai yume o kakae” (Michishirube ~A Road Home~ / Orange Range)
Setelah kupikir lagi, kenapa sih, aku mesti memikirkan hal-hal remeh seperti “menang”, “kalah”, atau “realistis” ?
Seperti yang dikatakan oleh dosen pembimbingku, dari sini aku bisa mendapat pengalaman yang bagus. Sebagaimana pengalamanku yang dulu-dulu, pengalaman itu jauh lebih berharga dibandingkan kemenangan, karena ada banyak hal yang bisa dipelajari dari pengalaman, tapi kadang kemenangan justru membawa kita kearah keburukan.
Dan emangnya kenapa sih, aku pilih mengangkat topik zakat produktif untuk karya tulisnya ? Aku ingin mensyiarkan ekonomi syariah, kan ? Aku ingin membuktikan bahwa ekonomi syariah itu ilmiah, kan ? Aku ingin mengembangkan R&D ekonomi syariah, kan ? Sekalipun benar bahwa jika aku menang, maka apa yang kukatakan akan lebih membekas, tapi jujur aja, deh, apa aku memikirkan tentang kemenangan, saat aku menulis karya tulisku itu ?
Aku mesti berterima kasih pada Orange Range. Kebetulan sekarang aku sedang mendengarkan lagunya yang jadi judul posting ini, “Michishirube~A Road Home~” (It have a great lyric, you can read the English translation in the end of this post) dan tiba-tiba aku menyadari kekeliruan cara berpikirku. What’s the matter if I was destined to be lost ? To win this competition is not my real goal, isn’t it ? Bukankah aku ikut kompetisi ini karena ingin mendapatkan pengalaman dan menunjukkan sisi lain Ekonomi Syariah yang diremehkan oleh dosen-dosenku ?
I’ll never win or lost in this competition, because I neither have any intention of being the winner nor the loser. It’s just that if I can show my best performance on the presentation session and learn something from it, then I’m success.
Allah selalu mengingatkanku dengan cara yang luar biasa. I love you so much, Allah…
“There are many mountains that stretch on before me/Relax the tension, I think it’s just a little further to that light /I just continue down this road pointlessly /I look right left steadily past the fog.” “Here I part with the road I was lost on /What’s left is to go on ahead / Whether I go slow or fast, I carry a great big dream on my back.” “Time goes by like it’s flowing past, make a run for the goal / When confidence and experience come together, a road forms, the key to getting your dream.” “ Did you forget somewhere along the way ? / On the road of adulthood.” “ What lies beyond the fog ahead of us ? / Can we see a new world ? / Even the unesiness flooding each day, look right in front of your eyes.” “Let’s walk on towards the light / All of sudden the signpost opens the way / I can see a brand new world lying beyond the fog ahead of us.” (translations taken from Animonster) Label: destiny, hikmah, need of achievement Read more..!
FOUR SEASONS
2:00 23/04/2009
“Four scene of love and laughter I'll be alright being alone Four scene of love and laughter I'll be alright being alone Four scene of love and laughter I'll be alright being alone Four scene of love and laughter I will be okay…” (Four Seasons / Namie Amuro)
Tadi di kampus, eh, atau “kemarin”, ya ? yah, secara timing waktunya sih udah kemarin. Yah, yang jelas, aku ngobrol dengan kakak kupu-kupu dan kakak merpati, lalu kakak kupu-kupu bilang padaku, “Met berjuang, ya, Abida pasti bisa.”. Kata-katanya nggak persis seperti itu, sih, tapi yang jelas dia bermaksud menyemangatiku buat Mapres. Eh, aku malah langsung nyeletuk, “Lah, kalau aku yang jadi Mapres, trus si mas X dan mbak Y (sensor, ya (^_^)) mau ditaruh dimana ? Kalau aku sih, peringkat tiga atau empat aja udah bagus.”.
Karena sudah jelas banget track record sainganku, terutama yang dari jurusan akuntansi, jauh lebih bagus daripadaku. Dilihat dari segi aktivitas akademik, menurutku saja nih, mereka lebih kompeten daripada aku si katak dalam tempurung ini. I’m not pessimistic, it’s just that if it’s about being realistic and accept one’s fate, I’m much better than anybody in this world.
Sudah berkali-kali aku dihadapkan pada situasi “mentok”, dimana aku harus tetap berusaha, walaupun aku tahu nggak bisa mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang kuharapkan. Bahkan seumur hidupku, aku berusaha keras untuk mendapatkan hal yang jelas-jelas tidak akan pernah kuraih. It’s that kind of things; things i can fight for, but i can’t win it.
Yah, ada juga, sih, perasaan bahwa dengan berkata seperti itu, berarti aku menganggap diriku mengetahui masa depan, mendahului ketentuan Allah. Tapi ya…is there anybody who can say that I’m wrong ? Pendapatku didasari pada situasi yang terjadi, dan aku nggak melihat celah untuk menganggap pendapatku salah. Label: underpressure Read more..!
FOREVER
21:46 21/04/2009
Pernahkah kalian merasakan ada keajaiban-keajaiban kecil dalam hidup, yang dengan adanya keajaiban itu, kalian merasa sangat senang, hebat, dirahmati dan disayangi Allah ? Sedetik yang lalu, kalian mengorbankan sesuatu yang sangat kalian sayangi, tapi tiba-tiba saja kalian tahu bahwa sebenarnya kalian bukannya “mengorbankan” sesuatu, melainkan “membayar” untuk mendapatkan sesuatu yang jauh lebih baik. Good deeds always pay. Dan bila kau berbuat kebaikan bagi Allah, maka dia akan memberimu kebaikan.
Hari senin kemarin, saat aku buka beranda facebook-ku, aku menemukan bahwa Rui (my best friend forever) meng-embed video lagu Forever-nya Takashi Sorimachi yang jadi theme song dorama Beach Boys. Berhubung aku cinta lagu itu. Berhubung aku udah cari kemana-mana tapi tetep nggak dapet MP3-nya.Berhubung mood-ku sedang nyambung banget dengan lagu itu. Aku langsung histeris !. Waaaaaaa ! Rui, Muchas Gracias !. Pas, waktu itu dia juga lagi online, jadi aku langsung kirim chat, mau ngopi lagu itu. Dia bilang, dah punya lagunya, versi komplit. Jadilah, kita janjian mau ketemu besoknya (Selasa) di Semarang Bawah.
Tapi emang dasarnya aku nggak ditakdirkan untuk ketemu dia, kali yaa… (waktu itu sih, kupikir, mungkin niatku ketemu dia tuh nggak tulus, jadi aku dihukum buat ngerasain gimana sengsaranya ngidam Forever). Ada tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia buat bikin makalah berkelompok. Nah, tugasnya itu mesti dikumpulin hari kamis, padahal tema makalahnya aja belum kita tentukan, jadi mau nggak mau aku mesti kerja kelompok hari selasa itu. Nah, berhubung aku sekelompok dengan 4 cowok dan 1 cewek, dan sebagaimana umumnya cowok, mereka ogah bangun pagi-pagi, jadi kerja kelompoknya musti jam 9, atau bakda dhuhur sekalian. Soalnya kita juga ada mid jam 15.00 hari selasa itu. Asalnya sih, mereka udah oke kita kerja kelompok bakda dhuhur aja. Jadi, aku bisa ke Semarang Bawah jam 7 atau 8 an, bisa ngobrol sama Rui, de el el. Tapi belakangan ada junior-ku di KSEI minta tolong dibantuin bikin surat buat acara SELECT, yang mana surat itu udah deadline mesti jadi hari ini, dan aku juga ngerasa tanggung jawab, soalnya aku SC (Steering Commitee) kegiatan itu, jadi yah...aku bikin janji sama junior-ku itu buat bikin surat di kosku hari Selasa jam 7 pagi. Yah, udah, deh...akhirnya aku membatalkan janjianku ketemu Rui, dan kerja kelompoknya balik ke jam 9. Tambah apes lagi waktu selasa pagi, asisten departemenku mau membicarakan sesuatu denganku sekitar jam 10-an. Yah....nasib...kupikir kalau kerja kelompoknya selesai cepat, aku masih bisa main ke tempat Rui, tapi kan akhirnya aku ada janji lagi setelah kerja kelompok itu... mosok aku mau ke Semarang Bawah bakda dhuhur, padahal jam 15.00 ada ujian midsemester...kalo telat, gimana, coba ?
Jadilah, jadwalku hari ini (selasa, 21 April 2009): jam 7.00 ngerjain surat SELECT, jam 9.00 kerja kelompok Perekonomian Indonesia, jam 10/11 ketemu asisten departemenku, jam 13.00 belajar, jam 15.00 midsemester Strategi Bisnis Jam 6.30 aku sudah ready di beranda kos-ku, menyiapkan laptop dan printer. Lalu junior-ku itu datang, dan agenda jam 7.00 lancar, selesai lebih cepat dari perkiraanku. Nah, keajaibannya muncul waktu agenda jam 9.00 kerja kelompok. Ceritanya begini. Kelompokku itu isinya aku, salah satu cewek teman sekelasku yang kusebut “Kakak” (now, let’s call her: Dorothy Catalonia), Zorro yang dulu pernah kuceritakan itu, dan tiga cowok lain yang belum pernah masuk posting-ku yang manapun (Let’s call them: Gothic Fans, Duo Maxwell, dan Kurz Weber). Nah, waktu kita udah hampir mencapai kesepakatan mengenai judul makalahnya, ada yang buka-buka isi folder-folder dalam laptopnya si Gothic Fans, dan ternyata eh ternyata, dia PUNYA Forever-nya Takashi Sorimachi yang kuidam-idamkan itu ! WAAAAA ! KOK KAMU BISA PUNYA ITU ? AKU NGOPI, DONG, YA ? Lagi-lagi aku histeris. Aku sampai nggak ingat lagi, kayak gimana ekspresiku waktu itu ataupun apa yang kukatakan. Pendek kata, aku mengcopy lagu itu, dan sekarang ini aku nulis sambil ndengerin lagu itu.
Jujur aja, nih, aku cukup sering mendapatkan keajaiban semacam ini, tapi baru kali ini aku paham apa maksud Allah dari semua itu. Bahwa keputusan apapun yang kubuat, selama itu dilandasi KEIKHLASAN penuh tanpa keluhan dan tanpa harapan akan imbalan, maka saat itulah sesungguhnya keputusan itu TEPAT. Sebuah keputusan yang tepat bukanlah sebuah keputusan yang memberikan benefit lebih besar dibandingkan cost-nya, melainkan sebuah keputusan dikatakan tepat jika kita menjalaninya dengan sepenuh hati.
Itu juga yang terjadi ketika aku dengan tanpa ragu menolak KKL Bali, dan sebagai gantinya malah mendapatkan MUNAS di Malang dan Temilnas di Bali.
Nah, itu hikmah hari ini. Hal itu sekaligus juga memperjelas nasehat dari Kakak Merpati hari senin kemarin, waktu aku mengeluh padanya soal kemalasanku di KSEI tahun ini. Katanya, “Apa niatmu waktu masuk KSEI ? Ekonomi Syariah, kan ? Jadi ya, berjuanglah untuk itu, nggak usah pedulikan yang lainnya.”.
Oh ya, by the way, aku agak mikir, nih, apa ya, yang dipikirkan oleh teman-teman sekelompokku tadi, waktu mereka melihat histeria-ku ? Soalnya setelah itu, ekspresi mereka waktu melihatku jadi agak beda. Yang jelas, sih, image-ku di mata mereka jadi berubah total. Siapa sangka, Mapres Jurusan EP, cewek berkacamata yang super rajin dan kelihatan alim, ternyata sakit jiwa, keracunan jejepangan... Goodbye Hermione Granger, Irasshai Ran Kotobuki... Label: destiny, hikmah Read more..!
SAVE ME
11:30 20/04/2009
Aku merasa ada yang salah dengan diriku, akhir-akhir ini. Sifatku jadi semakin buruk. Komunikasiku dengan orang lain juga memburuk. Hubunganku dengan Allah juga nggak kalah jeleknya.
Atau apakah ini adalah sifat asliku; incompetent, cynic, high and mighty, exhibitionist ?
Beberapa hari yang lalu, ada teman sekelasku yang mengingatkanku agar aku bersifat seperti padi, makin berisi makin merunduk. Bukannya berterima kasih atas kata-katanya, aku malah bersikap defensif dan berusaha mencari pembenaran untuk sikapku di kampus yang akhir-akhir ini memang tambah jelek. Di kelas, aku dengan mudahnya memvonis orang lain incompetent (bahkan bukan cuma anak sekelas, kakak kelas juga !). Di organisasi, dengn enaknya aku membebani dan mengkritik orang lain. Padahal di sisi lain, sebenarnya aku sudah lupa materi-materi kuliah lama-ku. Beberapa kali, ketika ada yang menanyakan suatu subjek padaku, aku nggak bisa jawab !. Hingga detik ini, yang sudah dihasilkan oleh departemenku di KSEI cuma progja, belum ada apa-apa, dan memang aku nggak mengaktifkannnya. Ketika ditanyai mengenai bagaimana dengan departemenku, aku cuma bisa bilang...lagi nggak mood. OikonomiA lebih parah lagi. Sebagai Sekertaris Umum, seharusnya aku bisa mengaktifkan organisasi yang mati suri ini, tapi apa sih yang kulakukan ? cuma ngejar-ngejar ketuanya buat minta tandatangan di surat keterangan aktif organisasi.
Setiap malam aku introspeksi diri, setiap malam aku menyesal, tapi setiap kali, keesokan harinya aku mengulangi kesalahan yang sama.
Awalnya aku nggak ingin menulis tentang ini disini. Tapi yah, jujur saja, blog ini sudah menjadi semacam kontrol sosial bagiku, jadi demi perbaikan sikapku, maka aku menulis tentang ini. Dulu, blog ini memang kubuat agar aku bisa cerita-cerita banyak ke teman SMA-ku, tapi lha, kok lama-lama jadi curhatan nggak jelas ? Begini, selepasnya aku dari Kau-Tahu-Siapa, maka nggak ada lagi orang yang mengawasiku ataupun mengontrol tindakanku di Semarang. Apakah aku mau copot kerudung, pacaran, nge-drug, atau jungkir balik sampai seperti apapun, nggak ada yang akan melarangku. Orang tuaku di Temanggung, dan sekalipun nenekku tinggal di Semarang, tapi cukup jauh dari kampusku. Satu kalimat dari murabbi favoritku: ”Tidak ada seorangpun yang bisa menjamin ke-istiqomah-an seseorang.”. Lingkungan kos-ku yang sekarang memang relatif kondusif dibandingkan kos-kos umum lain, tapi tetap saja, anak pacaran tiap hari sampai malem, cewek kemana-mana pakai pakaian ketat di badan, tiap hari tontonannya gosip, musik, dan sinetron. Aku sendiri menjadi saksi bagi sejumlah ”akhwat eks-binaan” yang pacaran. Sampai sejauh mana aku bisa bertahan tidak ikut arus ?
Disini, segalanya ditentukan oleh pilihan individu. Tak ada seorangpun yang bisa memaksaku untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Sekalipun aku berubah jadi cewek murahan seperti cewek-cewek lain, nggak ada yang akan mengingatkanku. Apalagi, kecenderungan defensif-ku jika dikritik, akan membuatku memberikan seribu satu pembelaan atas tindakanku.
Oleh karenanya, aku rutin bercerita disini, menuliskan masalah-masalah dan perkembangan diriku disini. Jika suatu saat aku berubah menjadi lebih buruk, maka aku harus berhadapan dengan resiko orang tuaku mengetahui keburukanku (sekedar keterangan, adikku termasuk aktivis dunia maya sepertiku). Jika aku berubah menjadi jahat, maka aku harus berhadapan dengan resiko hancurnya reputasiku. Jika aku berbohong, maka gaya penulisanku akan berubah. Jika suatu saat aku berhenti menulis disini, berarti ada sesuatu yang nggak beres dengan diriku. Tanpa kusadari, blog ini sudah berubah menjadi lebih dari sekedar image branding, penjaga pertemanan, dan media penuangan buah pikiran, melainkan juga sarana kontrol sosial bagiku.
Kesimpulannya, dengan menuliskan masalahku kali ini disini, aku jadi punya tanggung jawab untuk menuliskan lagi disini di lain waktu, bahwa aku berhasil memecahkan masalah itu. Yah, dengan kata lain, aku punya ”utang” untuk menyampaikan akhir dari cerita pada pembaca blog ini. Semacam itu, lah...
By the way, aku baru saja dapat sms dari salah satu peserta pemilihan Mapres FE yang lain, dia nanya, presentasinya tanggal 28, kan ? apa benar karya tulisnya dikumpulin hari ini ?. Gludhak ! Tahu, nggak, kukira presentasinya itu selasa besok ! Ternyata aku ini emang bener-bener nggak teliti banget ! jelas-jelas di undangannya ditulis Selasa, 28 April 2009, tapi aku cuma lihat ”selasa”-nya doang, dan kukira selasa ini. Jadi, sejak kemarin aku kerja keras menggodok ulang karya tulisku. Eh, ternyata presentasinya selasa minggu depan...
Emang, deh, aku ini incompetent banget...
Aku nggak akan heran, kalau tahun ini aku gagal jadi Mapres. Karena itu pasti teguran dari Allah untukku. Label: hikmah, penyesalan Read more..!
DEPEND ON YOU
13/04/2009 23:22
“mezashiteta GOORU ni todokisou na toki hontou wa mada tooi koto kizuita no? ittai doko made yukeba ii no ka owari no nai hibi wo dou suru no? hitosuji no hikari wo shinjite miru no? soretomo kurayami ni obieru no?” (Depend on You / Ayumi Hamasaki)
Aku adalah tipe orang yang meyakini prinsip right man on the right place. Hanya orang yang berkompetenlah yang berhak untuk berada dalam posisi tertentu. Karenanya, aku benci melihat orang-orang yang tidak kompeten duduk di posisi-posisi yang butuh kompetensi tertentu. Dan karenanya juga, aku yang merasa nggak kompeten ini merasa ragu untuk maju menjadi Mapres. Aku merasa kurang memiliki cukup kompetensi yang dibutuhkan untuk itu.
Aku juga tipe orang yang selalu berusaha untuk melakukan hal terbaik yang bisa kulakukan, bila itu sudah berhubungan dengan soal achievement. Karena walau hasil itu penting, tapi proses mencapai hasil itu jauh lebih penting. Di kamar kosku tertulis besar-besar “You’re the best ! Keep trying, keep praying, JUST DO THE BEST !”. Sedikit banyak, hal ini membuatku mudah rendah diri dan menghindari hal-hal yang menurutku aku nggak bisa atau nggak mau berbuat yang terbaik untuk mendapatkan hasil. Mundur sejak awal akan melindungiku dari kegagalan. Karena bila aku sudah memutuskan untuk maju, maka aku harus bisa melakukan hal terbaik untuk mendapatkan tujuan, dan upaya itu tentu saja membutuhkan mental tahan banting, jiwa besar yang tidak akan menyesal, dan pengorbanan yang nggak sedikit dalam perjalanannya. Nggak terhitung berapa kali aku mundur dari kesempatan bagus, hanya karena ketakutan yang nggak beralasan semacam itu.
Tapi kali ini, minggu ini, aku akan menempuh jalan yang berbeda.
Berkaitan dengan masalah maju atau tidak ke pemilihan Mapres, aku sudah berdiskusi dengan beberapa orang. Ibuku bilang, bila tahun depan aku sudah pasti bisa lebih baik, ya, lebih baik tahun ini mundur dan maju tahun depan. Tapi beliau juga menyarankanku untuk bertanya pada orang lain yang lebih paham mengenai seluk beluk mapres. Orang-orang di KSEI menanggapi keraguanku untuk maju ke mapres dengan sambil lalu. Kemudian aku bertanya pada salah satu dosen EP yang mengetahui masalah mapres sekaligus satu-satunya dosen EP yang paling enak kalau kuajak ngobrol. Beliau bilang, yang terpenting ketika aku maju mapres adalah pengalaman yang bisa kuambil dari situ. Selain itu, masalah appearance atau sejenisnya bukanlah aspek yang menjadi pertimbangan, karena mapres melihat inner seorang mahasiswa, bukan appearance-nya. Intinya, maju terus aja.
Yah, itu memang benar, sih. Yang terpenting adalah pengalaman yang bisa kuambil dari sana, bukan masalah menang atau kalah, memalukan atau membanggakan.
Selain itu, beberapa orang lain memberiku support untuk terus maju. I thank them so much. Karena berkat itu, sekalipun aku tidak memenuhi standar kompetensi dalam pandanganku sendiri, tapi setidaknya beberapa orang merasa aku berkompeten.
Setelah kupikir-pikir lagi, rasa-rasanya aku terlampau terpengaruh oleh “ramalan buruk”-ku akan “malapetaka semester genap”. Padahal hidup kita, upaya kita sendirilah yang menentukannya. Akibatnya, aku sudah merasa kalah sebelum bertanding. Padahal, setiap peserta memiliki chance yang sama, untuk menang, maupun untuk kalah. Untuk kemungkinan itu, sudah seharusnya aku berusaha melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan, terlepas dari soal “modal awal” seperti apa yang kumiliki. Karena Allah SWT tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu mau berusaha merubahnya.
Pada akhirnya, kuputuskan untuk maju terus. Nggak masalah menang atau kalah, memalukan atau membanggakan, karena dengan mengajukan diri saja, aku sudah menjadi seorang pemenang. Seorang pemenang dalam pertempuranku melawan mental ”rendah diri” yang ada dalam sisi tergelap di hatiku. Untuk itu, aku perlu menunjukkan pada musuh yang ada dalam diriku itu, bahwa dengan kondisiku yang seperti inipun, i still can do my best. Aku telah memilih jalanku sendiri, dan aku tidak akan menyesal. Label: permanent decision Read more..!
|
HITO WA KANASHII MONO
Mistakes repeated so many times, and ideas crashing so greatly. Our standards are very uncertain. But my steps have become longer than yesterday
|